Kewajipan Bersetubuh Suami Isteri

Agama Islam telah menetapkan kewajipan suami iaitu memberi nafkah lahir dan batin kepada isterinya. Kewajipan nafkah lahir itu umpamanya memberinya makan, minum, pakaian, perhiasan dan sebagainya. Sedang nafkah batin adalah mengisi dan memuaskan keperluan seksual isteri.

Bagi suami yang mempunyai isteri lebih dari satu maka berkewajipan menggilir isterinya itu menurut kesepakatan mereka bersama. Dan kesempatan itu tidak boleh diingkari. Dengan ketentuan seperti itu menunjukkan bahawa suami mempunyai kewajipan memenuhi hajat seksual isterinya.

Begitu juga sebaliknya, seorang isteri pun mempunyai kewajipan melayani hajat seksual suaminya. Isteri tidak boleh menolak bila pada suatu saat ia diperlukan suaminya untuk berhubungan kelamin. Dan ini memang tugas bagi setiap isteri, sebagai imbalan jerih payah suami yang telah dengan sukarelanya memenuhi kewajipan yang dibebankan kepadanya dalam perkahwinan.

Dengan adanya kewajipan yang timbal balik antara suami isteri maka dapatlah di penuhi kewajipan seksual masig-masing dengan bersetubuh. Dengan demikian tidak akan terjadi kesimpang siuran di dalam memenuhi hajat mereka berdua. Seperti halnya pada suatu waktu suami mengajak isterinya bersetubuh. Akan tetapi ajakannya itu ternyata ditolak.

Demikian pula ada kalanya seorang isteri mengajak suaminya berhubungan kelamin, tetapi ajakan itu ditolaknya. Kalau hal ini berterusan, pasti terjadi kekecewaan dari pihak isteri.

Mengapa sampai terjadi hal seperti itu? Ada dua penyebabnya yang tidak difahami oleh suami isteri iaitu:

a) Kerana suami atau isteri tidak mengetahui tanda-tanda bila biasanya masa berahi keduanya datang. Suami tidak mengetahui tanda dan masa berahi isterinya. Demikian pula isteri tidak mengetahui tanda dan masa berahi suaminya.

b) Suami atau isteri tidak mengetahui kemampuan bersetubuh dari ‘partner’nya masing-masing. Suami tidak mengetahui kemampuan bersetubuh isterinya. Begitu juga isteri tidak mengetahui kemampuan bersetubuh suaminya.

Apabila kedua penyebab itu dapat diketahui oleh kedua belah pihak, maka tidak akan terjadi kesalahfahaman antara keduanya; kerana tidak ada unsur paksaan atau perasaan terpaksa di dalam setiap hubungan seks. Kedua unsur itu dapat menjadi hambatan dalam mencapai keharmonian dalam rumah tangga.

Berapa kalikah suami mampu mengadakan hubungan seks dalam seminggu atau sebulan? Tidak ada jawapan yang tepat mengenai soal ini. Semua orang yang tergolong ahli dalam bidang seksual tidak ada yang menyimpulkan secara tepat. Sesungguhnya bilangan yang normal tidak ada, semuanya berbeza-beza antara satu dengan yang lain. Ada orang yang melakukan hubungan seks sekali pada setiap malam. Ada yang melakukannya dua hari sekali, ada yang setiap tiga hari sekali, ada yang melakukannya sekali dalam seminggu, bahkan ada yang melakukannya 3-4 kali dalam sebulan.

Tegasnya tidak ada bilangan yang tetap dalam hal ini kerana kemampuan seksual tidak boleh diukur dari wujud fizik, umpamanya ukuran zakar. Akan tetapi bergantung dari kemampuannya memprodusi air mani, kesihatan badan, makanan yang cukup vitamin, cukup istirehat, perasaan selalu gembira, pengaruh ransgsanga-rangsangan yang erotis dan sebagainya. Kesemua itu dapat mempengaruhi kemampuan bersetubuh seseorang.

Begitu juga kemampuan seksual menjadi menurun bila terjadi gangguan penyakit, dalam keadaan lapar, bekerja berat, dalam penderitaan, ketegangan-ketegangan perasaan dan lain sebagainya. Oleh sebab itu tidak ada ketentuan waktu yang boleh digunakan sebagai jadual bersetubuh.

Agama Islam membenarkan kahwin dengan empat orang wanita. Ketentuan itu tentu erat sekali hubungannya dengan kemampuan seksual seseorang. Kerana empat orang wanita yang dikahwininya itu tentu menuntut nafkah batin kepada suaminya. Dengan demikian, ia wajib menggilir isterinya itu selama empat hari dalam seminggu. Jadi melihat peraturan Islam yang demikian, kemungkinan besar secara alamiah rata-rata manusia itu mempunyai kekuatan atau kemampuan senggama empat kali dalam seminggu.

Mengenai bila datangnya masa berahi wanita, pengetahuan ini memang perlu diketahui oleh setiap wanita sebab mengajak isterinya bersetubuh di saat-saat ia tidak ada ghairah seksual, hasilnya tentu tidak memuaskan kerana hubungan seks yang dilakukan keduanya atas dasar suka sama suka dan saling hajat-menghajatkan. Ertinya di dalam batin isterinya tidak ada kehendak untuk menolak. Di sinilah perlunya seorang suami yang dapat mengetahui masa berahi isterinya.

Menurut Marshall dalam Physiology of Reproduction, dia menulis “Masa bangkitnya nafsu berahi wanita pada umumnya sehabis menstruasi (haid)”. Sedang menurut Ellis adalah kebalikannya iaitu sebelum datangnya masa haid, hanya kadang-kadang saja nafsunya memuncak sehabis haid.

Pada tahun 1918 Marie Stopes dalam bukunya yang popular Married Love mengatakan bahawa rata-rata nafsu seks wanita menjadi naik dan mencapai puncaknya dua kali dalam sebulan. Iaitu satu kali dalam dua minggu, sedang pada waktu haid nafsu itu turun serendah-rendahnya. Dari ketentuan-ketentuan yang diberikan oleh Marie Stopes itu, maka pada tahun 1919 Dr Havelok Ellis membuat kesimpulan sebagai berikut:

i.Pada wanita memang ada gelombang syahwat yang teratur, yang sejalan dengan gelombang haid.

ii.Ada dua puncaknya yang tertinggi pada gelombang itu.

Dari berbagai pendapat di atas itu, kiranya ada satu pendapat yang agaknya bersesuaian dengan firmah Allah di dalam Al-Quran yang bermaksud:

“Maka apabila mereka telah suci (dari haid) maka datangilah mereka dengan cara yang diperintahkan Allah kepada kalian”.

(Al-Quran, Surah Al Baqarah Ayat 222)

Jangan Dekati Zina

Tidak mengherankan kalau seluruh agama Samawi mengharamkan dan memberantas perzinaan. Terakhir ialah Islam yang dengan keras melarang perzinaan serta memberikan ultimatum yang sangat tajam.

Karena perzinaan itu dapat mengaburkan masalah keturunan, merusak keturunan, menghancurkan rumahtangga, meretakkan perhubungan, meluasnya penyakit kelamin, kejahatan nafsu dan merosotnya akhlak. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikatakan Allah:

“Jangan kamu dekat-dekat pada perzinaan, karena sesungguhnya dia itu perbuatan yang kotor dan cara yang sangat tidak baik.” (al-Isra’: 32) Islam, sebagaimana kita maklumi, apabila mengharamkan sesuatu, maka ditutupnyalah jalan-jalan yang akan membawa kepada perbuatan haram itu, serta mengharamkan cara apa saja serta seluruh pendahuluannya yang mungkin dapat membawa kepada perbuatan haram itu.

Justru itu pula, maka apa saja yang dapat membangkitkan seks dan membuka pintu fitnah baik oleh laki-laki atau perempuan, serta mendorong orang untuk berbuat yang keji atau paling tidak mendekatkan perbuatan yang keji itu, atau yang memberikan jalan-jalan untuk berbuat yang keji, maka
Islam melarangnya demi untuk menutup jalan berbuat haram dan menjaga daripada perbuatan yang merusak.

Pergaulan Bebas adalah Haram

Di antara jalan-jalan yang diharamkan Islam ialah: Bersendirian dengan seorang perempuan lain. Yang dimaksud perempuan lain, yaitu: bukan isteri, bukan salah satu kerabat yang haram dikawin untuk selama-lamanya, seperti ibu, saudara, bibi dan sebagainya yang insya Allah nanti akan kami bicarakan selanjutnya.

Ini bukan berarti menghilangkan kepercayaan kedua belah pihak atau salah satunya, tetapi demi menjaga kedua insan tersebut dari perasaan-perasaan yang tidak baik yang biasa bergelora dalam hati ketika bertemunya dua jenis itu, tanpa ada orang ketiganya.

Dalam hal ini Rasulullah bersabda sebagai berikut:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (Riwayat Ahmad) “Jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu menyendiri dengan seorang perempuan, kecuali bersama mahramnya.”

Imam Qurthubi dalam menafsirkan firman Allah yang berkenaan dengan isteri-isteri Nabi, yaitu yang tersebut dalam surah al-Ahzab ayat 53, yang artinya: “Apabila kamu minta sesuatu (makanan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. Karena yang demikian itu lebih dapat membersihkan hati-hati kamu dan hati-hati mereka itu,” mengatakan: maksudnya perasaan-perasaan yang timbul dari orang laki-laki terhadap orang perempuan, dan perasaan-perasaan perempuan terhadap laki-laki. Yakni cara seperti itu lebih ampuh untuk meniadakan perasaan-perasaan bimbang dan lebih dapat menjauhkan dari tuduhan yang bukan-bukan dan lebih positif untuk melindungi
keluarga.

Ini berarti, bahwa manusia tidak boleh percaya pada diri sendiri dalam hubungannya dengan masalah bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak halal baginya. Oleh karena itu menjauhi hal
tersebut akan lebih baik dan lebih dapat melindungi serta lebih sempurna penjagaannya.

Secara khusus, Rasulullah memperingatkan juga seorang laki-laki yang bersendirian dengan ipar. Sebab sering terjadi, karena dianggap sudah terbiasa dan memperingan hal tersebut di kalangan keluarga, maka kadang-kadang membawa akibat yang tidak baik. Karena bersendirian dengan keluarga itu bahayanya lebih hebat daripada dengan orang lain, dan fitnah pun lebih kuat. Sebab memungkinkan dia dapat masuk tempat perempuan tersebut tanpa ada yang menegur. Berbeda sekali dengan orang lain.

Yang sama dengan ini ialah keluarga perempuan yang bukan mahramnya seperti kemanakannya baik dari pihak ayah atau ibu. Dia tidak boleh berkhalwat dengan mereka ini. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut:

“Hindarilah keluar-masuk rumah seorang perempuan. Kemudian ada seorang laki-laki dari sahabat Anshar bertanya: Ya Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang ipar? Maka jawab Nabi: Bersendirian
dengan ipar itu sama dengan menjumpai mati.” (Riwayat Bukhari)

Yang dimaksud ipar, yaitu keluarga isteri/keluarga suami. Yakni,  bahwa berkhalwat (bersendirian) dengan ipar membawa bahaya dan kehancuran, yaitu hancurnya agama, karena terjadinya perbuatan
maksiat; dan hancurnya seorang perempuan dengan dicerai oleh suaminya apabila sampai terjadi cemburu, serta membawa kehancuran hubungan sosial apabila salah satu keluarganya itu ada yang berburuk sangka kepadanya.

Bahayanya ini bukan hanya sekedar kepada instink manusia dan perasaan-perasaan yang ditimbulkan saja, tetapi akan mengancam eksistensi rumahtangga dan kehidupan suami-isteri serta rahasia kedua belah pihak yang dibawa-bawa oleh lidah-lidah usil atau keinginan-keinginan untuk merusak rumahtangga orang.

Justru itu pula, Ibnul Atsir dalam menafsirkan perkataan ipar adalah sama dengan mati itu mengatakan sebagai berikut: Perkataan tersebut biasa dikatakan oleh orang-orang Arab seperti mengatakan singa itu sama dengan mati, raja itu sama dengan api, yakni bertemu dengan singa dan raja sama dengan bertemu mati dan api.

Jadi berkhalwat dengan ipar lebih hebat bahayanya daripada berkhalwat dengan orang lain. Sebab kemungkinan dia dapat berbuat baik yang banyak kepada si ipar tersebut dan akhirnya memberatkan kepada suami yang di luar kemampuan suami, pergaulan yang tidak baik atau lainnya, Sebab seorang suami tidak merasa kikuk untuk melihat dalamnya ipar dengan keluar-masuk rumah ipar tersebut.

« Previous Page